Artikel ini merupakan rangkuman Dhammadesana DhammaCakraTra Los Angeles pada tanggal 28 Maret 2010 oleh Bhante Dr. S. Karunananda.
Kata Vihara itu di ambil dari bahasa Pali. Vihara itu sangat lah penting. Vihara merupakan tempat tinggal para sangha atau bisa disebut sebagai tempat untuk para biara (monastic).
Untuk membicarakan soal vihara, kita harus menyinggung mengenai waktu dimana Sang Buddha Gautama baru saja mencapai pencerahan/penerangan (enlightenment) di 6 S.M. (6 B.C.) di Bodh Gaya, Rajagaha. Rajagaha adalah sebuah kota yg dulunya di dominasi oleh Raja Bimbisara pada jaman Sang Buddha Gautama masih hidup. Raja Bimbisara telah mendukung banyak sekali perkembangan dan peyebaran ajaran Sang Buddha Gautama.
Saat Siddharta Gautama bertekad untuk meditasi untuk mencapai pencerahan, Raja Bimbisara menawarkan Siddharta untuk datang ke tempatnya dan menguasai daerah dan memimpin daerahnya. Siddharta menolak akan tawaran itu, dia berkata kalau dia memang hanya mau menguasai suatu daerah dia bisa mendapatkan hal yg sama dari ayah dia sendiri (Raja Suddhodana). Tapi Siddharta berjanji dia akan kembali ke tempat Raja Bimbisara setelah dia mencapai pencerahan.
Disaat Siddharta Gautama telah mencapai pencerahan, Raja Bimbisara pun menawarkan vihara yg besar kepada Buddha Gautama, yg dinamakan vihara Veluvana. Buddha Gautama pun pergi ke vihara Veluvana setelah dia mencapai pencerahan, tetapi setelah dia membentuk 5 sangha pertama dulu.
Di Rajagaha, disitu ada seorang pedagang yg sangat kaya, bahkan lebih kaya dari raja. Pada suata saat, dia pergi ke Rajagaha dan mengetahui mengenai Sang Buddha, seseorang yg sangat bijaksana yg telah mencapai pencerahan dan sedang tinggal di Rajagaha. Si Pedagang ini meminta temannya untuk membawa dia untuk bertemu dg Sang Buddha. Setelah bertemu dengan Sang Buddha, dia pun menawarkan Sang Buddha untuk membangunkan vihara di Sravasti, tapi vihara yg dia hendak bangunkan itu membutuhkan luas tanah sebesar 84 acre. Dia tak dapat menemukan tempat seluas itu. Kemudian dia bertemu dg Pangeran Jeta dan menawarkan Pangeran Jeta untuk membeli salah satu tanah beliau yg Pangeran biasa pakai untuk bersenang-senang. Daerah itu dinamakan Taman Jeta.
Pangeran Jeta merasa hal ini sangat lah lucu, seorang pedagang ingin membeli salah satu taman dia untuk membangun vihara? Siapa yg sanggup beli taman pangeran, pikirnya. Dia punya berkata kepada si pedagang "kalau kamu bisa menutupi seluru taman aku dengan koin emas, maka taman itu pun akan aku jual kepada kamu". Dengan sadha yg sangat kuat terhadap Sang Buddha, si pedagang ini pun melakukan hal tersebut. Menurut cerita, si Pedagang ini sangatlah kaya dan Pangeran Jeta tidak sadar bahwa si pedagang ini sangat kaya.
Si Pedagang pun kemudian menutupi semua taman Jeta dengan koin emas dia (menurut Wikipedia, ada 1.8 juta koin emas). Pangeran Jeta pun sangatlah terkejut setelah mengetahui hal tersebut dan setuju untuk menjual Taman Jeta kepada si pedagang ini dan berjanji untuk memberikan semua kayu yg dibutuhkan untuk membangun vihara tersebut. Maka dari itu vihara tersebut pun dinamakan vihara Jetavana. Dan nama si Pedagang adalah Anathapindika.
Selain membangun vihara, Anathapindika pun membagi-bagikan koin emas dia kepada anak yatim piatu dan memberikan makanan kepada mereka setiap hari. Selain dari viahra Jetavana, dia pun membangun vihara-vihara yg lain juga. Sang Buddha Gautama sempat bertempat tinggal di Jetavana selama 19 masa vasa dan 6 masa vasa di vihara Pubbarama, yg diberikan oleh seorang wanita kepada Buddha Gautama.
Apa Bedanya Rumah Tinggal Biasa dan Vihara?
Secara fisikal, dua-dua-nya itu sama. Tapi secara psikologi mereka itu beda. Vihara itu walau mempunyai bentuk secara fisikal, tetapi juga disebut sebagai vihara Brahma. Dimana itu merupakan tempat untuk praktek kemurahan hati (generosity), kesusilaan (morality), kebijaksanaan (wisdom) dan konsentrasi (concentration).
Dirumah tinggal biasa, banyakan orang2 hanya praktek keserakahan (greed) dan khayalan (Delusion), yg kadang2 malah praktek tidak kemurahan hati (non-generosity) dan kebencian (hate).
Di Vihara, orang-orang praktek faktor tidak-keserakahan (non-greed) dan kebijaksanaan (wisdom). Dalam ajaran Sang Buddha, kita didorong untuk selalu ber-praktek di vihara Brahma. Dimana disitu terdapat eksistensi (existence) yg tinggi, pikiran yg tinggi (estate of mind) seperti Metta (cinta-tak-bersyarat / unconditional love), memberi tanpa berharap, dsb. Kalau kita memberi tanpa berharap, kita malah akan mendapatkan imbalan lebih besar dan banyak daripada kita selalu berharap akan sesuatu (dimana malah masalah yg datang).
Dalam kehidupan keluarga, pada dasarnya kita selalu praktek cinta kasih (love) tapi cinta-bersyarat (conditional love). Kalau saya kasih kamu pen, kamu kasih saya buku. Itu bukan suatu kebebasan.
Karuna - kasih sayang (compassion). Merasakan sedih/iba atas perasaan orang lain.
Contoh: kamu sedang berjalan dan melihata ada orang yg sedang kecelakaan. Kalau kamu mempunyai karuna di diri kamu, pasti kamu akan melakukan sesuatu.Mudita - sympathetic joy (belas kasihan). Ikut merasa senang atas kesenangan orang lain. Contoh: Teman kamu menang lottrey $5juta. Setelah memberitahu kamu, kalau kamu juga ikut merasa senang makan kamu mempunyai mudita. Tapi ini merupakan hal yg sulit untuk di lakukan karena biasanya orang akan rasa cemburu.
Kebajikan2 ini (metta, karuna, mudita) bisa di praktekkan di vihara.
Equanimity (ketenangan hati).
Di hidup ini, tujuan utama kita adalah kedamaian (peace) dan kebahagiaan (happiness). Tapi kadang-kadang kita malah tidak bisa mendapatkan itu semua. Kenapa?
Kebahagiaan bisa didapati dari banyak sumber. Contohnya uang, suami, istri, dsb. Tapi itu semua bukan kebahagian sejati (real happiness), karena itu semua tidaklah permanen (permanent), itu bisa berubah kapan saja (subject to change). Apa yg kita mau adalah kebahagian sejati yg permanen, yaitua Dhamma. Kalau kamu tahu Dhamma, kamu akan tahu hidup ini.
Kita harus menciptakan kebahagiaan didalam diri kita sendiri, yaitu pikiran kita. Kebahagiaan datang dari pikiran kita. Kalau kita selalu praktekkan itu, bahkan kematian pun akan menjadi tentram (peaceful) buat kita. Kita bisa dengan mudah tinggalkan badan ini karena kita bisa berpikir kita bisa mempunyai kesempatan baik untuk tinggal di dunia yg lebih baik lagi di kehidupan akan datang. Kalau kita selalu praktek Dhamma, kita tidak akan merasa takut (fearful) atau menyesal (remorse), semua yg kita ada dan punya hanyalah kebahagiaan.
Maka dari itu kita perlu selalu praktek kemurahan hati di vihara. Di vihara juga kita harus melakukan banyak hal. Kerja keras, tapi juga belajar untuk melepaskan (letting go) dan memberi (giving up). Mulai dari benda material. Contoh: saat kita marah dan meditasi atau sedang di vihara, kita bisa sadar akan kemarahan kita. Saat kita sadar akan kemarahan kita, kita pun mau melepaskannya, setidaknya 50% hilang saat kita sadar. Kalau kita tidak sadar, kemarahan ini bisa jadi tak terkontrol lagi.
Apakah boleh di meja altar saya hanya ada patung Buddha saja, dan tak ada benda lain?
Ya, boleh saja.
Untuk Anak-Anak
Buddha = yg sadar (awaken/enlightenment)
Sadar dari apa? Kasur? Mimpi? Bukan. Sadar dari kebodohan/ketidaktahuan (ignorance). Ketidaktahuan itu kegelapan. Disaat kita dalam kegelapan, kita tidak bisa melihat apa2 dengan jelas karena tidak ada sinar/cahaya.
Maka Sang Buddha telah sadar dari kegelapan atas ketidaktahuan ini.
Dhamma = ajaran dari orang yg telah sadar (awaken one) ini.
Sangha = penganut sang buddha (Buddha's disciple) yg dimulai dari jaman Sang Buddha.
Sangha merupakan ladang tertinggi untuk menanam jasa/karma baik. Dan Sangha lah yg tinggal di vihara.
Ada 2 tipe sangha:
- Bhikkhu Umum (Conventional Sangha) = buatan manusia. Ditabiskan oleh Bhikkhu lain.
- Bhikkhu Ariyan (Arahant Monk) = untuk menjadi Bhikkhu Ariyan, orang tersebut harus menjadi Bhikkhu umum terlebih dahulu.
Tripitaka terdiri dari 3:
- Sutta Pitaka = Ajaran, nasehat, wacana Sang Buddha
- Vinaya Pitaka = Sila-sila untuk para Bhikkhu dan Bhikkhuni
- Abhidhamma Pitaka = Materi2 filsafat dan fisiologi
Setelah Sang Buddha parinibbana, ada 4 sidang para sangha untuk melindungi Dhamma. Sidang pertama terjadi di kota Rajagaha, dimana Ananda menghafalkan semua Vinaya yg dibuat oleh Sang Buddha. Ananda sanggup untuk mengingat semua vinaya tersebut dan juga sebagian besar dari parita/Dhamma.
Maka dari itu, disaat kita selalu datang ke vihara, kita selalu datang untuk mempererat/memelihara (cultivate), kita pergi ke vihara untuk berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha, dan untuk praktekkan pancasila. Berlatih dan praktek kemurahan hati (generosity), kesusilaan (morality), melepaskan (letting go), dsb.
Dirangkum oleh Cherry.
(1352 views)
Comments