Mempelajari Pikiran Yang Sangat Terlatih ------Marcia Barinaga
Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto
Para bikkhu Buddhis dan ilmuwan Barat sedang membandingkan catatan mengenai cara pikiran bekerja serta berkolaborasi untuk menguji berbagai insight yang terkumpul dari latihan meditasi---CAMBRIDGE, MASSACHUSETTS--Matthieu Ricard bukanlah seorang biku Buddhis yang biasa-biasa saja.
Dia memperoleh Ph.D.nya dalam biologi molekular di the Pasteur Institute, Paris 30 tahun silam sebelum memutuskan mendedikasikan hidupnya untuk berlatih Buddhisme Tibet.
Sekarang, Ricard, seorang anggota Wihara Shechen di Nepal terlibat kembali dalam sains, baik sebagai seorang subyek maupun kolaborator dalam sebuah proyek neuroscience di Universitas Wisconsin, Madison. Di sana, dia dan neuroscientist, Richard Davidson berharap untuk mempelajari penelitian terhadap para meditator terlatih dapat atau tidak menyediakan berbagai insight ke dalam mekanisme fungsi pikiran atau berbagai metode terapi baru untuk psikologi.
Kolaborasi yang tidak lazim ini serta berbagai kolaborasi lain semacam ini dikataliskan oleh the Mind and Life Institute yang didirikan pada tahun 1980an oleh seorang pengusaha, Adam Engle dan almarhum Francisco Varela, seorang neuroscientist, untuk menumbuhkembangkan dialog antara para scholar Buddhis dengan ilmuwan Barat.
Pada awalnya institut ini memsponsori berbagai pertemuan kecil yang bersifat pribadi di pusat Dalai Lama di Dharamsala, India. Namun bulan lalu, pertemuan tersebut tampil ke publik untuk pertama kalinya melalui sebuah konferensi dengan tema "Menyelidiki Pikiran," yang diselenggarakan di sini, di the Massachusetts Institute of Technology dan disponsori bersama oleh Insititut McGovern Untuk Riset Otak yang merupakan bagian dari MIT.
Selama dua hari, panel yang terdiri dari para neuroscientist dan scholar Buddhis itu tampil di hadapan 1.100 orang peserta bersama dengan Dalai Lama untuk mendiskusikan atensi/perhatian, gambaran mental, dan emosi--topik-topik yang menarik perhatian para Buddhis dan ilmuwan.
Atmosfirnya bersifat casual; pemimpin Tibet itu berkumpul bersama para pembicara di hadapan sebuah laptop untuk memberikan presentasi mereka yang seringkali diinterupsi oleh berbagai pertanyaan atau komentar.
Co-founder Mind and Life, Varela, yang merupakan mantan direktur riset Cognitive Neurosciences and Brain Imaging Laboratory-nya CNRS, di Paris, memegang suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa para Buddhis dengan sejarah penyelidikan introspektif mereka ke dalam sifat dasar pikiran sepanjang 2500 tahun, memiliki begitu banyak hal yang bisa ditawarkan kepada para neuroscientist.
Beberapa orang neuroscientist seperti Davidson yang familiar dengan Buddhisme sependapat dengannya. Para neuroscientist lainnya berdatangan ke berbagai pertemuan semacam itu karena didorong rasa keingintahuan mereka namun dengan kepastian yang lebih minim mengenai apa yang dapat dikontribusikan oleh para Buddhis.
"Aku harus mengakui bahwa beberapa orang ilmuwan yang hadir melihat para Buddhis hampir seperti berbagai spesimen," kata seorang cognitive neuroscientist, Jonathan Cohen dari Universitas Princeton yang turut berpartisipasi dalam pertemuan di MIT. "Kaya gini lho, 'Di sini terdapat segerombolan orang yang mengklaim mampu melakukan hal-hal yang tidak lazim.
Mari kita pasangkan elektroda ke mereka' ...dibutuhkan diskusi panjang lebar bagi para ilmuwan tersebut untuk menghormati bahwa para Buddhis memiliki beberapa hal yang menarik untuk diperbincangkan."
---------------------------------
Riset Interdisiplin ilmu. Para ilmuwan (di sebelah kiri) berbagi panggung di MIT dengan para scholar Buddhis (di sebelah kanan) dan Dalai Lama (keempat dari kanan). Mereka mendiskusikan atensi, gambaran mental, dan emosi.
CREDIT: DONNA COVENEY/MIT
---------------------------------
Sains Pikiran Buddhis
Beberapa orang ilmuwan melakukan transisi tersebut melalui lebih banyak belajar tentang meditasi. Meditasi sering dipandang orang-orang Barat sebagai suatu bentuk rileksasi semata yang manfaat-manfaatnya tak lebih dari meringankan kadar stress atau menurunkan tekanan darah saja.
Sesungguhnya meditasi merupakan suatu sistim pelatihan pikiran yang ketat dan pengamatan proses mental, apa yang disebut oleh para Buddhis sebagai "Sains Pikiran"nya mereka. "Sejak dari awal, [Buddhisme] telah memberikan penekanan yang teramat sangat dalam mempertajam atensi, menguatkan ketrampilan-ketrampilan atensi, dan mengembangkan cara-cara yang amat sangat canggih untuk menyelidiki sifat dasar pikiran dari perspektif orang pertama, " kata scholar Buddhis dan mantan bikkhu, B. Alan Wallace, presiden dari the Santa Barbara Institute for the Interdisciplinary Study of Consciousness.
"Yang lebih hebat lagi," tambah Wallace, "Buddha sendiri memberitahukan para pengikutNya untuk tidak mengikuti ajaran-ajaran Beliau berdasarkan iman semata melainkan harus menguji sendiri ajaran-ajaran tersebut. Semangat penyelidikan itulah yang membuat beberapa praktisi Buddhis antusias untuk berpartisipasi dalam studi-studi neuroscience.
Sudah matang waktunya untuk mendapatkan input dari para Buddhis, kata Clifford Saron, seorang periset dari Pusat Untuk Pikiran dan Otak Universitas California di Davis.
Peralatan yang digunakan para cognitive neuroscientist untuk mengukur aktivitas otak telah berkembang menjadi sedemikian sensitifnya, kata Saron, sehingga para ilmuwan dapat mengamati perbedaan-perbedaan aktivitas otak pada para individu yang melakukan tugas yang sama atau bahkan pada berbagai uji coba terhadap individu yang sama.
Terdapat informasi dalam variasi tersebut, namun informasi itu membutuhkan input dari si subyek agar dapat menguraikannya. "Kebanyakan orang memiliki sangat sedikit pelatihan untuk dapat melaporkan cara mereka melakukan suatu tugas," kata Saron, namun para meditator yang terlatih untuk mengamati pikiran mereka sendiri akan mampu mendeskripsikan secara mendetil apakah atensi mereka lebih stabil atau tidak dalam suatu uji coba versus uji coba lainnya, apakah mereka menyiapkan diri mereka dengan sedikit berbeda atau tidak, atau bahkan kilatan emosi atau gambaran mental apa saja yang melintas dalam pikiran mereka.
Para Buddhis mengatakan bahwa mereka berharap interaksi ini dapat membawa pada beberapa hal--yang pertama, "suatu dunia yang lebih sehat," menurut seorang biku Buddhis dan peserta pertemuan tersebut, Ajahn Amaro dari Wihara Abhayagiri di Redwood Valley, California.
Selain itu, mereka juga menginginkan kesempatan untuk menguji berbagai insight orang pertama mereka dengan menggunakan berbagai teknik riset Barat dan lebih memahami keadaan-keadaan mental yang telah mereka capai melalui meditasi. Ada cukup banyak "shlock science" yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan ini, kata Davidson, tetapi, the Mind and Life Institute telah mendekati isu ini "dengan cara yang sangat berbeda yaitu dengan melibatkan orang-orang terbaik di bidangnya masing-masing," tambahnya.
Salah satu topik panas di pertemuan MIT adalah peranan introspeksi atau pelaporan pengalaman mental pribadi, dalam sains. Meskipun introspeksi telah menjadi basis penyelidikan Buddhis terhadap pikiran, psikolog Universitas Harvard, Daniel Gilbert mencatat bahwa "banyak ilmuwan yang mengalami kesulitan untuk menerima ide bahwa introspeksi dapat menjadi sejenis data.
"Memang demikianlah kenyataannya, psikolog Harvard, Stephen Kosslyn menghabiskan separuh presentasinya mengilustrasikan berbagai cara di mana laporan si subyek akan strategi mental yang mereka gunakan untuk memecahkan persoalan dapat membawa ke arah yang menyimpang. Terlepas dari berbagai keberatan tersebut, neuroscience mulai menggunakan berbagai insight orang pertama untuk mengerangkakan pertanyaan-pertanyaan, kata neuroscientist G. Ron Mangun, direktur Pusat Untuk Pikiran dan Otak Universitas California di Davis.
"Ketika anda membicarakan sesuatu seperti kognisi manusia, jika anda tidak menggunakan introspeksi untuk memandu anda, agak sulit ya untuk dapat sampai ke mana pun juga," kata Mangun. "Kami selalu menggunakan introspeksi dalam riset kami. Kami hanya melatih diri untuk sangat berhati-hati dalam menggunakannya."
---------------------------------
Dialog. Stephen Kosslyn menjelaskan suatu tes psikologi kepada Dalai Lama.
CREDIT: DONNA COVENEY/MIT
---------------------------------
Beberapa introspeksi para Buddhis secara langsung menantang pandangan-pandangan yang dipegang oleh para neuroscientist.
Misalnya, para meditator terlatih mengklaim mampu mempertahankan atensi mereka terhadap suatu obyek tunggal selama berjam-jam atau mampu dengan sangat cepat mengalihkan perhatian mereka sebanyak 17 kali dalam satu petikan jari.
Klaim-klaim ini berlawanan dengan laporan-laporan Barat yang mengatakan bahwa atensi tidak dapat dipertahankan sedemikian lama atau dialihkan sedemikian cepatnya. Apakah klaim-klaim semacam itu terbukti benar atau tidak, neuroscientist MIT, Nancy Kanwisher sangat antusias untuk melihat apakah para biku yang telah melatih perhatian mereka selama bertahun-tahun akan lebih baik atau tidak dalam menjalani berbagai tes atensi standar daripada orang rata-rata.
"Melatih atensi hampir belum disentuh oleh cognitive neuroscience," kata Kanwisher. Selekasnya hal itu akan berubah. Mangun dan Saron dari Universitas California Davis sedang merencanakan kolaborasi dengan Institut Santa Barbaranya Wallace untuk menguji keterampilan-keterampilan atensi para meditator terlatih. Mereka merencanakan untuk mendaftarkan 24 sukarelawan ke dalam program samatha penuh waktu intensif selama tiga bulan.
Samatha adalah sejenis pelatihan kontemplatif Buddhis yang bertujuan menguatkan keterampilan-keterampilan atensi. Sebagai pertukaran untuk pelatihan tersebut, para meditator itu akan setuju untuk dijadikan subyek studi psikologi dan brain-imaging pada saat melakukan atensi. Karena para subyek akan dites sebelum, selama berlangsungnya, dan sesudah pelatihan mereka, studi itu menghindari perangkap-perangkap tertentu dari bekerja dengan para meditator ulung, seperti kemungkinan bahwa perbedaan-perbedaan terobservasi yang manapun juga akan mencerminkan bukan pelatihan itu melainkan fakta bahwa para subyek yang tertarik untuk bermeditasi mungkin telah memiliki otak yang tidak lazim untuk memulainya.
Memegang Gambar Dalam Pikiran
Sementara beberapa praktisi Buddhis menspesialisasikan dirinya pada atensi, yang lain-lainnya membaktikan diri mereka pada praktik membayangkan gambar (visual imagery) yang sangat menuntut, memeditasikan suatu gambar yang dipegang dalam pikiran sebagai cara untuk membersihkan pikiran dari berbagai penilaian.
Mungkin dibutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun lamanya bagi seorang biku untuk mengembangkan kekuatan imagery. Beberapa orang pakar meditasi mengklaim mampu memegang dalam pikiran mereka suatu gambar detil seperti sebuah mandala yang kompleks--suatu gambaran simbolik tentang alam semesta--selama sekian banyak menit atau bahkan berjam-jam lamanya.
Klaim-klaim ini juga bertentangan dengan neuroscience Barat. "Berdasarkan pemahaman saya tentang cara pikiran bekerja, hal semacam itu mustahil dapat dilakukan," kata Kosslyn dari Harvard yang mempelajari gambaran mental. Kosslyn telah menemukan bahwa gambaran-gambaran mental berubah secepat kilat--kondisi ini memang diperlukan, kilahnya, karena gambaran mental menggunakan area-area otak yang sama untuk penglihatan dan gambaran-gambaran visual cepat sekali menghilang dari otak untuk mencegah terjadinya efek penglihatan terhalang sesuatu sementara mata kita bergerak.
"Apakah anda merencanakan untuk melakukan eksperimen terhadap para biku?" tanya Dalai Lama kepada Rosslyn. "Jika ternyata mereka berbeda, bagaimana hal itu akan mengubah teori anda?" Kosslyn menjawab bahwa dirinya sangat antusias untuk menguji teorinya dengan para meditator terlatih dan ia telah mengadakan berbagai eksperimen untuk menguji memegang suatu gambar dalam pikiran selama suatu jangka waktu serta kejelasan gambar-gambar tersebut.
Jika dia menemukan berbagai perbedaan pada para meditator terlatih itu, katanya, ia akan menscan otak-otak mereka untuk menemukan aktivitas tidak lazim yang mungkin dapat menjelaskan disparitas tersebut dengan menggunakan functional magnetic resonance imaging.
Ada kendala untuk melakukan eksperimen-eksperimen semacam itu: sangat sedikit sekali biku yang benar-benar menguasai visual imagery dan, kata Ricard, "mereka adalah para petapa kontemplatif. Tak ada seorang pun dari mereka yang siap datang ke lab." Ricard berkata ia mengharapkan untuk menemukan beberapa orang biku yang cukup menguasai yang bersedia untuk melakukan perjalanan.
---------------------------------
Para Kolaborator. Richard Davidson (sebelah kanan) dan Matthieu Ricard setelah ekperimen brain-imaging.
CREDIT: R. DAVIDSON/W. M. KECK LABORATORY FOR FUNCTIONAL BRAIN IMAGING AND BEHAVIOR, UNIV. OF WISCONSIN
---------------------------------
Menekankan Emosi Yang Positif
Kolaborasi antara para Buddhis dengan para neuroscientist hingga saat ini paling banyak membuahkan hasil dalam studi emosi. Meditasi Buddhis menumbuhkembangkan keadaan-keadaan mental "bajik" yang dikatakan dapat membawa pada kesejahteraan seperti kasih sayang, kegembiraan, dan "cinta kasih. "Psikolog Universitas California Berkeley, Dacher Keltner mengatakan ini adalah pendekatan yang secara radikal berbeda dengan pendekatan psikologi Barat yang terutama memfokuskan pada keadaan-keadaan mental negatif seperti kemarahan, rasa takut, atau depresi.
Meningkat jumlah psikolog Barat yang sedang menyelidiki potensi pelatihan meditasi Buddhis untuk mengalihkan otak ke keadaan mental yang positif. Davidson dari Wisconsin sedang berkolaborasi dengan Ricard untuk mempelajari aktivitas otak yang diasosiasikan dengan emosi-emosi positifnya para biku Buddhis. Davidson dan para koleganya telah berulang kali mendemonstrasikan bahwa aktivitas di bagian depan otak mencerminkan keadaan emosi seseorang. Tingginya rasio aktivitas di berbagai area depan otak sebelah kiri versus kanan menandakan kilasan mood positif atau apa yang disebut Davidson sebagai "style afektif" positif yang merupakan kualitas mood yang bertahan dalam suatu jangka waktu.
Para subyek yang tercengkram dalam mood negatif atau yang memiliki style afektif negatif yang umum lebih rendah dalam rasio kiri ke kanan. Dan ketika para periset memicu suatu emosi negatif, misalnya dengan menunjukkan foto-foto yang menganggu kepada para subyek, emosi-emosi negatif tersebut lebih cepat menghilang pada orang-orang yang memiliki lebih banyak aktivitas di bagian depan otak kirinya. Menggunakan berbagai teknik tersebut, Davidson dan postdoc Antoine Lutz sedang mempelajari Ricard dan biku-biku lainnya yang memiliki pengalaman meditasi selama bertahun-tahun lamanya.
Subyek pertama mereka, kala tidak bermeditasi, menunjukkan rasio aktivitas otak kiri-kanan yang lebih tinggi daripada 150 orang subyek non-Buddhis manapun yang sebelumnya telah diuji oleh tim tersebut. Sampai sejauh ini tim itu telah menguji enam orang biku. Datanya masih dianalisa, tetapi Davidson melaporkan dalam pertemuan di MIT bahwa ketika para biku diminta untuk melakukan meditasi kasih sayang, mereka menunjukkan peralihan yang lebih besar ke aktivasi bagian depan otak kiri daripada para subyek terkendali yang tidak terlatih dalam meditasi namun diberikan instruksi untuk melakukan meditasi kasih sayang. Studi semacam ini tidak dapat mencoret kemungkinan bahwa otak para biku tersebut memang sudah tidak lazim bahkan sebelum mereka memulai pelatihan mereka.
Maka dari itu, tim Davidson lalu mengambil pendekatan yang lain. Pendekatan tersebut merekrut para karyawan Promega, sebuah perusahaan bioteknologi di Madison untuk mengenapi 8 minggu pelatihan meditasi dasar. Para sukarelawan secara acak ditugaskan untuk mengikuti atau tidak mengikuti pelatihan.
Tim tersebut baru-baru ini melaporkan dalam Psychosomatic Medicine bahwa dibanding para subyek terkendali, mereka yang dilatih bermeditasi menunjukkan peningkatan aktivasi bagian prefrontal otak kiri baik pada saat beristirahat maupun dalam menanggapi suatu tantangan emosional. "Ini bukanlah suatu studi yang definitif dalam bentuk apapun," kata Davidson. Namun, studi itu bukanlah satu-satunya pilot project yang telah membuahkan hasil-hasil awal yang menggiurkan.
Sebuah studi yang dinamakan proyek Mengolah Keseimbangan Emosional juga memberikan kesan bahwa pelatihan meditasi dapat meningkatkan kesehatan emosional orang-orang Barat.
Psikolog Universitas California San Francisco, Paul Ekman membayangkan proyek tersebut setelah berpartisipasi dalam salah satu pertemuan the Mind and Life di Dharamsala dan mengembangkannya dengan Wallace dan psikolog kesehatan UCSF, Margaret Kemeny. Untuk pilot study tersebut, 15 orang guru sekolah menggenapi kursus meditasi intensif selama 5 minggu yang mencakup meditasi kasih sayang dan cinta kasih yang diintegrasikan dengan berbagai strategi dan teknik yang terpilih dari riset emosi moderen Barat. Para guru tersebut mengikuti sederetan test psikologi sebelum dan sesudah pelatihan. Mereka dipasangkan kabel untuk pengukuran psikologi seperti kecepatan detak jantung dan tekanan darah, selain itu, mereka juga divideokan sehingga para psikolog dapat memonitor mereka untuk melihat berbagai reaksi non-verbal yang menunjukkan perasaan-perasaan seperti kebencian atau penerimaan.
Para subyek menunjukkan tanggapan-tanggapan emosional yang lebih positif setelah mengikuti pelatihan daripada sebelumnya. Berdasarkan hasil tersebut, para periset sedang merencanakan studi yang lebih besar lagi--kali ini dengan suatu kelompok yang terkendali.
Kemeny mencatat bahwa proyek Mengolah Keseimbangan Emosional berbeda dengan berbagai studi lainnya karena fokus pelatihannya adalah pada emosi-emosi seperti kasih sayang dan empati yang menumbuhkembangkan suatu perasaan positif terhadap pihak-pihak lainnya, selain itu, juga berbeda dalam pengukurannya terhadap perubahan-perubahan dalam berbagai reaksi dari para subyek terhadap orang-orang lain. "Kami ingin memahami dampak-dampak psikologis" dari pelatihan semacam itu, katanya. Itu merupakan sebuah pertanyaan yang Dalai Lama sendiri telah miliki jawaban siapnya.
Dalam pernyataan penutupnya, beliau mengulang kembali keyakinannya terhadap kekuatan sains dan mendorong kolaborasi antara para Buddhis dan ilmuwan, ditutup dengan desakan yang penuh keyakinan kepada para pendengarnya untuk "menumbuhkembangkan emosi-emosi positif dan mengikis yang negatif".
Jika para Buddhis dan ilmuwan dapat bekerja sama dan memikirkan bagaimana kita semua dapat melakukannya, mungkin Ajahn Amaro akan memperoleh keinginannya untuk suatu dunia yang lebih sehat.
Dikutip dari milis MUBI 31 Oktober 2003 yang diterjemahkan oleh Sdr. Jimmy Lominto
(162 views)
Comments