Bila Setiap Hari Merupakan Hari Baik, TAHUN BARU Ini Tentu Tahun yang Baik

Posted on Wednesday, January 27, 2010

Artikel ini diambil dari mailing list DhammaCakraTra Southern California.

Bila setiap menit dan detik berniat dalam berbuat baik, maka setiap hari merupakan hari yang penuh keselamatan dan keberkahan.

- Master Cheng Yen

Setiap menit dan detik berniat baik

Dalam ceramah Master Cheng Yen pada acara pemberkahan akhir tahun di Taiwan, Ping Tung, Master mengatakan bahwa banyak bencana yang diakibatkan manusia berawal dari ketidakselarasan batin. Sebagai contoh, pergolakan akibat ulah manusia telah menyebabkan rakyat Zimbabwe dan Haiti hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Contoh ini harus dijadikan peringatan agar kita mau menghargai keamanan dan keselamatan.

"Setiap orang harus berikrar agar mampu menolong semua penderitaan di muka bumi ini. Kalau berbuat sebaliknya, akan sungguh berbahaya."

Dalam kondisi ekonomi global yang memburuk, Master menghimbau agar semua orang dapat mengendalikan nafsu keinginan, giat berusaha, hidup hemat, selalu bertahan serta tidak gentar dalam menghadapi kesulitan ekonomi, dan yang paling penting jangan terlalu bersikap konsumtif. Kalau masih sanggup, bantulah orang yang menderita di dunia ini." Sanggup menolong orang lain, sesungguhnya lebih beruntung daripada sikap orang yang membutuhkan pertolongan", ujar Master Cheng Yen.

Setiap awal tahun setiap orang saling memberikan ucapan "Selamat Tahun Baru", dengan harapan segalanya akan berubah menjadi lebih baik di tahun baru ini. Master mengatakan, "kita berharap tahun baru adalah tahun baik, akan lebih baik lagi berharap setiap bulannya, setiap harinya selalu dalam kondisi baik. Bila dalam setiap menit dan setiap detik kita berniat dalam berbuat baik, setiap saat menghimpun berkah, maka setiap hari merupakan hari yang penuh keselamatan dan keberkahan."

Terjun ke masyarakat untuk menyadarkan semua makhluk hidup

Diantara sesama manusia, tentu ada saling keterkaitannya dalam hal jalinan cinta kasih, kebencian, perasaan dendam, dan semua penderitaan dalam hidup bersumber dari hal tersebut diatas.

Bagaimana cara menguraikannya agar hati manusia selaras? satu-satunya cara adalah bersama-sama terjun ke masyarakat dengan hati tulus dan penuh cinta kasih. Dari sana akan dapat disaksikan wujud penderitaan, munculnya kesadaran akan ketidakkekalan dunia dan hukum karma. "Daripada mencemaskan perubahan kondisi batin umat manusia, lebih baik meningkatkan harkat dan pikiran diri sendiri". Di dunia ini tiada sesuatupun yang abadi. Contohnya tubuh manusia, selalu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Dari bayi sampai tua, setiap menit dan detik terjadi proses penggantian dan penuaan. Siklus dari terlahir ada, lapuk dan lenyap adalah hukum alam. Segala sesuatu di alam ini terus terlahir dan lenyap, pada dasarnya adalah TIADA. Namun secara menakjubkan ADA. Semua yang secara menakjubkan itu ADA, pada dasarnya adalah TIADA", demikian kata Master.

Master menghimbau agar jangan berkutat dalam kata-kata, tapi bagaimana merenungkan cara "menyelamatkan kesadaran sejati" itu yang terpenting. Daripada berbicara hal tiada sampai ada, lebih baik kita melangkah di jalan tengah", tegas Beliau.

Metode pelatihan diri insan Tzu Chi adalah dengan menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri. Master mengajarkan, "kalau melafalkan nama Buddha jangan hanya formalitas saja, begitu keluar dari ruang kebaktian langsung menyimpan dendam, bertengkar, memendam rasa benci pada orang lain, lalu apa gunanya melafalkan nama Buddha?" Sesungguhnya pelafalan nama Buddha agar kita sadar dari kegelapan batin, merenungkan betapa Buddha maha welas asih dan maha bijaksana, serta agar kita mendapatkan kembali sifat dasar manusia yang semula jernih, bersih, harmonis dan saling membantu sesama.

Bila martabat manusia tercapai, tentu saja martabat hakiki kita sebagai wujud Buddha juga tercapai. Master menegaskan bilamana terjun ke dalam masyarakat dan berhubungan dengan orang lain, harus berusaha untuk membina hubungan baik dengan semua orang. "Lepaskan keakuan dan anggapan yang keliru. Jika mendengar usul atau kritik dari orang lain, berusahalah untuk memperbaiki diri, sehingga makin terasah menjadi baik. Harus terlebih dahulu menyucikan batin diri sendiri, baru bisa menyucikan batin orang lain, dengan demikian maka timbul saling melihat diri sendiri dan dengan demikian tentu hubungan antar sesama bisa lebih tenang dan damai.

(119 views)

Comments

(0 comments)
Login or register to comment.