Artikel ini merupakan hasil rangkuman diskusi umat-umat DhammaCakraTra Los Angeles pada diskusi Dhamma rutin yang diadakan pada 16 January 2010.
Seperti yg telah kita ketahui dalam waktu dekat ini hari raya Tahun Baru Cina (Chinese New Year) akan datang pada tanggal 14 Februari 2010. Bagaimana pendapat teman2 se-Dhamma mengenai Tahun Baru Cina dalam Buddhism?
Pada umumnya, semua setuju bahwa Chinese New Year (CNY) adalah merupakan suatu tradisi/budaya chinese dari leluhur kita yang sudah dibawa dan dilaksanakan turun-menurun pada setiap generasi.
CNY itu lebih merupakan tradisi orang chinese dan tidak ada hubungannya dengan Buddhist. Tetapi kita bisa menggunakan hari CNY ini untuk mengingat dan menghormati leluhur kita.
Mungkin di Mahayana lebih merayakan CNY di vihara-vihara mereka karena, seperti kita ketahui, Mahayana itu berkembang pesat di China, sehingga mereka pun telah meng-adopsi adat/tradisi China. Tetapi vihara Theravada hampir, atau jarang sekali, yang merayakan CNY di vihara mereka. Seperti contoh, Tzu Chi (organisasi dari Taiwan) juga merayakan CNY di vihara mereka karena mereka sangat terpengaruh dengan tradisi orang Taiwan disitu.
Ada umat yg berpendapat bahwa beberapa umat Kristen yg mereka kenal tidak merayakan CNY, karena bagi mereka itu hanya untuk orang beragama Buddha saja. Bagi mereka, CNY mereka itu pada saat hari Natal. Begitu juga untuk orang pribumi di Indonesia yg beragama Buddha, merayakan CNY di hari Vesak saja.
Tetapi ada juga umat yg menyatakan bahwa hampir semua orang Kristen yg mereka kenal juga merayakan CNY di hari yg sama dengan orang2 lain (bukan hanya di hari Natal saja).
Ada juga umat yg menyatakan bahwa keluarga besar dia terdiri dari berbagai macam agama, ada agama Buddha, Kristen, Islam, dsb. Pada hari CNY, mereka semua tetap berkumpul di rumah saudara yg paling tua (yg mempunyai papan leluhur yg masih di hormati) dan merayakan bersama-sama.
Jadi semua berpendapat bahwa banyak sekali orang yg telah salah-artikan makna dari CNY itu. Banyak orang yg menganggap bahwa CNY itu hanya untuk orang beragama Buddha aja. Tetapi banyak juga orang2 yg mengerti bahwa CNY itu tidak ada hubungannya dengan agama Buddha.
Sehingga semua itu tergantung dari cara dan sisi pandang masing-masing orang tentang tradisi orang chinese dan agama. Kalau orang tersebut menghubungkan tradisi CNY ini dengan agama Buddha, makan dia akan selalu menganggap hanya orang Buddhist lah yg merayakan CNY. Semua itu tergantung dari betapa 'fanatic' dia-nya terhadap agamanya sendiri. Apakah dia bisa membedakan agama dan adat.
Ada umat yg quote dari buku Buddhist "We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world". Seperti quote ini, kalau orang tersebut merasa CNY ini hanya untuk Buddhist dan dia itu non-Buddhist, maka dia pun tidak akan merayakan CNY. Tetapi, kalau dia meliat CNY itu adalah tradisi orang chinese dari leluhur dan diri-nya sendiri pun seorang chinese, dan dia tidak menghubungkan tradisi tersebut dengan agama Buddha, makan dia pun tidak akan bermasalah untuk merayakan CNY ini.
Sama hal-nya seperti kami yg beragama Buddha juga ikut merayakan hari Natal walaupun kita bukan agama Kristen. Kita ikut merayakan dan respect budaya mereka, tetapi tidak usah dalam full extend.
Ada umat yg sharing bahwa salah satu teman kerja-nya itu Chinese yang sudah lahir dan besar di Amerika. Pada saat dia melihat teman kita ini bersiap2 untuk merayakan CNY, dia pun menyatakan "untuk apa kamu merayakan CNY? Kan kamu orang Indonesia". Teman kita ini pun membalas "Bagi saya, leluhur saya ini orang Chinese dan saya juga. Sehingga saya merayakan CNY ini karena saya menghormati leluhur saya, bukan karena hal lain". Sehari setelah itu, teman kerja teman kita ini pun mendekatinya dan berkata "Terima kasih dengan apa yg telah Anda katakan. Saya pun sadar, bahwa saya juga orang Chinese walaupun lahir dan besar di Amerika. Dan saya pun boleh merayakan CNY ini".
*Mohon maaf kalau kata2 yg saya ketik ini tidak sama persis dg apa yg teman kita ucapkan pada saat itu, karena tidak saya rekam, ini hanya berdasarkan ingatan saya pribadi saja*
Kemudian teman-teman se-dhamma pun berbagi cerita mereka masing2 tentang budaya CNY di keluarga mereka masing-masing dan di kampung halaman mereka masing-masing.
Hampir semua mempunyai tradisi yg sama, yaitu berkumpul semuanya satu keluarga untuk makan bersama-sama di rumah keluarga tertua atau yg ada papan/meja leluhur dirumahnya, pada malam sebelum CNY. Setelah makan malam bersama-sama, semuanya pun bersembahyang di klenteng atau vihara-vihara tertentu yg merayakannya.
Di hari CNY itu sendiri pun semua berkumpul2 lagi dan makan-makan. Atau sembahyang ke leluhur masing-masing. Dan salah satu adat yg paling mencolok adalah untuk memakai baju baru pada hari CNY dan membagi-bagi angpao (red packet).
Beberapa umat pun sharing semenjak mereka telah pindah ke Amerika, khususnya LA, mereka sudah tidak melakukan CNY seperti waktu mereka masih di Indonesia. Pada umumnya, mereka hanya kumpul di rumah masing-masing atau kumpulkan semua sanak keluarga yg masih ada di satu rumah, dan makan-makan bersama. Para orang tua masih saja membagikan Ang Pao (Red packet) ke anak-anak yg belum menikah. Ada juga umat kita yg berkunjung ke 8-9 vihara karena ajakan teman dan itu pun sudah menjadi kebiasaan mereka pada setiap tahunnya.
Dengan demikian, semua berkesimpulan bahwa perayaan CNY itu wajar-wajar saja untuk di rayakan oleh Buddhist ataupun non-Buddhist, terutama ini sangatlah bermakna bagi kita-kita yg keturunan Chinese. Kita menggunakan kesempatan CNY ini untuk mengingat dan menghormati para leluhur kita, dan juga menggunakan kesempatan ini untuk berkumpul lagi dengan saudara keluarga rame-rame.
Dirangkum oleh: Cherry
(252 views)
Comments